Ilmu Komunikasi Cuma Ilmu Ghibah dan Ilmu Omon-Omon Doang? Benarkah?

 

Ilmu komunikasi kerap diremehkan. Padahal, tak ada peradaban yang bisa berdiri tanpanya. Beberapa kali saya mendengar candaan seperti ini:

 “Anak komunikasi itu bisanya cuma omon omon dong…”

“Belajar komunikasi? Wah, jadi jurusan ghibah dong?”

“Ah, komunikasi mah ilmu gosip-gosip…”

Saya tertawa kecil, tapi dalam hati terasa getir. Sebagai seseorang yang menekuni bidang komunikasi, saya sadar bahwa pemahaman umum tentang komunikasi sering kali direduksi menjadi sekadar berbicara, bercanda, atau menyampaikan informasi. Padahal, realitasnya jauh lebih dalam dan menentukan.

Komunikasi Bukan Sekadar Ngomong

Tulisan ini saya buat bukan sekadar klarifikasi, tapi ajakan untuk merenung. Bahwa komunikasi bukanlah ilmu pinggiran yang remeh. Ia adalah nadi dari segala yang manusia lakukan. Bahkan, bisa dibilang—kita menjadi manusia karena kita berkomunikasi. Dan dunia menjadi seperti sekarang juga karena bagaimana manusia saling menyampaikan, menyembunyikan, menafsirkan, atau memutarbalikkan makna.

Komunikasi bukan sekadar lalu lintas pesan. Ia adalah mekanisme yang membentuk persepsi, menyusun sistem sosial, dan mereproduksi budaya. Apa yang kita anggap sebagai kebenaran, keadilan, atau bahkan sejarah—bukan hanya soal fakta, tapi soal bagaimana fakta itu dikomunikasikan, oleh siapa, untuk siapa, dan dalam narasi seperti apa.

Ketika Komunikasi Menjadi Alat Kuasa

Dapat disimpulkan bahwa komunikasi bukan sekadar media pertukaran informasi dan pesan, melainkan sebuah proses kompleks yang secara menyeluruh membentuk persepsi individu, membangun sistem sosial, dan mereproduksi budaya. Komunikasi tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga menjadi instrumen pembentuk struktur sosial itu sendiri. Dalam konteks ini, komunikasi memiliki potensi tidak hanya untuk mengkonstruksi makna, tetapi juga untuk mendominasi narasi, menyusun sejarah, bahkan menghapus bukti dan identitas sosial tertentu demi kepentingan kekuasaan yang hegemonik. Maka, komunikasi bukan hanya persoalan menyampaikan, tetapi juga persoalan siapa yang berhak menyuarakan, siapa yang dibungkam, dan bagaimana makna kolektif dibentuk atau ditiadakan.

Fenomena cancel culture menjadi contoh nyata betapa kuatnya pengaruh komunikasi dalam dunia hari ini. Seseorang bisa kehilangan pekerjaan, kredibilitas, bahkan identitas sosialnya hanya karena potongan video lama yang diviralkan. Bukan hukum yang bekerja, tetapi persepsi kolektif yang terbentuk dari narasi dominan di media sosial. Di sinilah komunikasi berfungsi bukan hanya sebagai jembatan makna, tetapi juga sebagai palu kekuasaan yang bisa menghukum tanpa pengadilan. Pertanyaannya kemudian: 

siapa yang mengontrol narasi? Siapa yang boleh bersuara? Dan siapa yang dibungkam? 

Karena dalam dunia yang dikendalikan oleh arus informasi, kekuasaan tidak lagi berada pada siapa yang benar, tetapi pada siapa yang dipercaya.

Komunikasi Adalah Warisan Langit

Namun kekuatan komunikasi bukanlah temuan baru. Jauh sebelum media sosial dan algoritma, komunikasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari relasi antara langit dan bumi.

Jika kita mundur jauh ke awal sejarah manusia, kita akan menemukan bahwa komunikasi adalah inti eksistensi kita.

Dalam Al-Qur’an, sebelum manusia diciptakan, terjadi komunikasi purba yang agung. Tuhan berkata kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. Malaikat mempertanyakan keputusan ini. Tuhan menjawab. Iblis menolak dan merasa lebih layak karena berasal dari api. Lalu Adam diajari “asmaa-a kullaha”—segala nama.

Dari sini kita melihat bahwa manusia dimuliakan bukan karena otot atau status langitnya, tetapi karena kemampuan menamai, memahami, dan menyampaikan makna. Karena bahasa. Karena komunikasi.

Dialog antara Tuhan, malaikat, dan iblis dalam kitab suci bukan sekadar kisah mitologis, melainkan refleksi mendalam bahwa komunikasi bukan hanya sarana, tetapi fondasi relasional dan eksistensial umat manusia. Sebelum manusia bekerja, membangun, atau berperang—manusia lebih dulu berdialog.

Komunikasi Adalah Medan Tempur Tak Kasat Mata

Hari ini, ketika algoritma menentukan mana yang viral dan mana yang tenggelam, kita hidup dalam dunia di mana yang terdengar lebih dipercaya daripada yang terbukti. Dan karena itu, komunikasi menjadi medan konflik yang tak selalu tampak, tapi sangat menentukan. Kita bisa dijajah bukan oleh senjata, tetapi oleh narasi. Kita bisa kalah bukan karena lemah, tapi karena tak punya suara.

Komunikasi dan Tanggung Jawab Ilahi Yang Membentuk Dunia

Dalam ajaran Islam sendiri ditegaskan, bahwa tak ada satu pun kata yang lolos dari pengawasan:

“Mâ yalfidhu ming qaulin illâ ladaihi raqîbun 'atîd” (QS. Qaf: 18) — Tidak ada satu kata pun yang terucap kecuali dicatat oleh malaikat pengawas.

Ayat ini menegaskan bahwa komunikasi bukan tindakan sepele, melainkan bagian dari amal dan etika yang akan diadili. Dalam konteks sosial, kita melihat dampaknya tak kalah serius. Satu ujaran kebencian bisa memecah belah masyarakat. Satu propaganda bisa menggiring satu generasi. Satu narasi palsu bisa menghapus puluhan tahun perjuangan dan pengetahuan.

Ayat ini tidak hanya bicara tentang dosa dan pahala, tapi juga tentang tanggung jawab epistemik kita—bahwa setiap ujaran adalah bagian dari konstruksi realitas sosial. Di sinilah letak tanggung jawab kita untuk tidak hanya berbicara, tapi menyadari apa yang kita bentuk melalui kata-kata kita. Bahwa dalam setiap narasi yang kita sampaikan atau abaikan, ada konsekuensi sosial, kultural, bahkan spiritual.

Jika selama ini kita menganggap komunikasi hanya perkara ngomong atau update status, mungkin kita belum sungguh-sungguh melihat betapa dalam dan mendasarnya peran komunikasi dalam hidup kita. Komunikasi bukan ilmu rendahan. Ia adalah jantung peradaban.

Akhiri dengan Kesadaran Baru

Kita hidup dan mati melalui narasi. Dan dalam setiap kalimat, ada potensi ilahi untuk membentuk dunia yang lebih adil—atau sebaliknya, memperpanjang penindasan.

Maka lain kali, sebelum kita meremehkan kata, mari ingat: 

Tuhan pun memulai segalanya dengan komunikasi.

Dan karena itu, jika kita ingin mengubah dunia, barangkali kita bisa mulai dari mengubah cara kita berbicara—dengan lebih jujur, adil, dan sadar.


Penulis: Akhsanul Hidayat - a.k.a Cenul


Next Post Previous Post