Prospek HMI kedepan : Dari Penuaan hingga Kematian
Ketika didirikan, Anggota HmI hanya terdiri dari beberapa mahasiswa, belum ada komisariat, belum ada cabang. Namun pertumbuhan yang didirikan Lafran Pane dan teman-temannya sangat berkembang pesat, reputasinya menanjak, dan namanya semakin tersohor. Anggota HmI terus berkembang. Hampir di seluruh perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, bahkan luar negeri terdapat banyak organisasi HmI.
Banyak faktor yang melatarbelakangi mahasiswa dari berbagi perguruan tinggi tersebut sangat berminat masuk HmI. Mungkin pada saat itu HmI mempunyai power daya tarik sendiri, bisa juga karena HmI mampu memberikan kebutuhan "Student Need" dan "Student Interest" bisa juga pada saat itu kuliah yang di tempuh tidak terlalu padat, sehingga berorganisasi tidak terlalu mengganggu.
Umur HmI sudah sangat senja, tapi senja bukan ditafsirkan anak millenial, penikmat senja katanya tapi gak solat magrib heheh. Usia yang lebih dari setengah abad tentu sangat banyak memberikan makna tersendiri bagi organisasi. Secara positif, organisasi ini pasti telah dewasa karena banyak pengalaman. Tetapi dibalik kedewasaan itu, tentu organisasi ini banyak menghadapi kendala yang bisa menghambat perkembangannya. Hal ini menginginkan pada pandangan sosiolog muslim Ibnu Kaldun yang mengungkapkan tentang teori siklus negara ( organisasi ), dimana organisasi hadir ( lahir ), mengalami fase maturitas ( kedewasaan ) dan fase penuaan ( penurunan ) hingga sebelum mengalami kematian. Perumpamaan nya seperti kita ( makhluk hidup ). Cuman matinya beda ada husnul khotimah atau su'ul khotimah.
Pandangan tersebut memang sederhana tapi penuh makna dan hikmah, bahwa apabila organisasi tersebut ingin abadi, maka dalam kontek inilah, sangat dapat dipahami pandangan yang menekan bahwa HmI harus melakukam revitalisasi, reaktualisasi, dan rejuvenasi ( penyegaran kembali ).
Menurut Sebagian pengamat ( Beberapa Alumni ), memasuki tahun 1980-an, HmI mengalami penurunan, baik secara organisasi, aktivitas, dan pemikirannya. Ada kecenderungan HmI bergerak menuju organisasi masif. Dalam Buku HmI Candradimuka Mahasiswa ditulis oleh Solichin. Prof. Ahmad Syafii Ma'arif melihat kemunduran yang terjadi sejak tahun 1980-an adalah karena konflik internal yang cenderung lama penyelesaiannya. Bagi mantum PP muhammadiyah yang juga alumni HmI, kemelut HmI pada 1985 cukup menguras energi kedua belah pihak yang berbeda pandangan. Akhirnya masih menurut Buya Syafii Ma'arif, kekuatan moral dan intelektual HmI tidak mungkin dikembangkan secara optimal. Sedangkan menurut Facry Ali, kemunduran HmI adalah akibat organisasi ini tidak mampu menjembatani kebutuhan sosiologis masyarakat sebagaimana dilakukan di awal-awal berdirinya. Sementara itu Prof. Azyumardi azra memandang kemunduran HmI akibat dalam berapa hal beragama lebih banyak mengedepankan akal bukan qolbu sebagaimana kebutuhan anak muda pada umumnya, sehingga HmI dipandang tidak pas untuk tempat berhimpun, kita mungkin pernah membaca kritikan dan koreksi untuk kebangkitan kembali HmI, yaitu buku 44 indikator kemunduran HmI yang ditulis Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul.
Baca Juga - Sihir Pemikiran Cak Nur, Merubah Peradaban Oleh Riki Hambali
Secara faktual dikemukakan dalam buku itu banyak sekali menceritakan kemunduran HmI, yang meliputi 44 indikator. penulis paparkan sepuluh indikator diantanya :
- Menurunya jumlah mahasiswa baru masuk HmI
- HmI semakin jauh dari mahasiswa, karena tidak dapat mengembangkan student need dan student interest secara profesional.
- Pola perkaderan HmI yang dirancang pertengahan abad XX sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi sesuai dengan tuntutan kontemporer.
- HmI dan kader-kader pengurus mengikuti jejak para pendahulunya.
- Kurang berfungsi nya aparat HmI seperti badko, cabang dan komisariat.
- Lemahnya manajemen organisasi karena sudah ketinggalan Zaman.
- Kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan dan pengalaman ajaran agama islam dikalangan anggota dan pengurus hampir-hampir tidak ada perbedaan pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman ajaran agama islam dari anggota HmI sesudah dan sebelum masuk HmI.
- Belum optimalnya pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan anggota dan pengurus HmI di semua hampir tingkatan kepengurusan tentang ke HmIan dan keorganisasian.
- Follow up perkaderan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
- HmI jarang melakukan evaluasi terhadap perjalanan organisasi dengan segala aktivitas sehingga tidak diketahui secara pasti sejauh mana keberhasilan HmI dalam melaksanakan perjuangan dan tidak diketahui secara pasti faktor-faktor penghambatnya.
Kritik kritik yang di dituliskan menyadarkan HmI agar kembali bangkit ( sebagai organisasi yang senantiasa muda dan dewasa ) guna merespon agar HmI tetap menjemput masa depan cerah dan gemilang.
